CaMaR : A Journey to be better muslims



Please leave a comment, so far 0 comments

bismillah ....
::I am proud, I am happy, and I am thankful to be a Muslim::

Yeay!
I am proud to be a Muslim!
Everyday when I wake up, I thank God for the fact I am alive for another day as a Muslim.


Yeay!
I enjoy to be a Muslim!
Every Muslims whom I meet, I can greet her/him for everyone is my sister or brother.

Yeay!
I am happy to be a Muslim!
Every seconds of my life, I am always in service for God.


Yeay!
I am grateful to be born as a Muslim!
From my very first breath, I am in full submission to God.


Yeay!
Alhamdulillah,
Thank you Allah for this wonderful,priceless faith!


~~the straight and narrow path to our final abode


Please leave a comment, so far 0 comments

:: MUKTAMAR 2004!!! ::

Berkongsi keriangan
Berkongsi pengalaman
Berkongsi ilmu dan pengisian




Please leave a comment, so far 0 comments

::The Youth of The Cave::

Muda remaja
Tapi mereka lari dari raja

Kenapa yah?

Mereka remaja
Tapi iman terpahat kukuh di dada
Mereka lari dari raja
Untuk selamatkan iman itu
Dan Allah Tuhan yang satu menambah petunjukNya

Mereka remaja

Sangat bersemangat dan berani
Bangga berikrar bahawa Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi

Kita remaja
Tapi kita lari dari agama
Kenapa yah?


Kita remaja
Tapi Islam lebih hanya pada nama
Kita lari kepada dunia
Dengan mengorbankan iman itu

Dan masih berangan untuk syurga

Kita remaja
Sangat lemah mengharungi dunia
Takut kehinaan di mata manusia


Kita remaja
Patut belajar kembali
Dan melihat kisah remaja-remaja di dalam Quran itu...


Please leave a comment, so far 0 comments

bismillah
::what's up?::
Alhamdulillah...maseh hidup dlm ramadhan dan slps ramadhan!

Usrah sisters pon akan terus hidup - inshaAllah!
Jom

SaBtU - NoV 20, 2004 - hari INI ~ ini HARI ~
530pM - HoWe SweEt hOwE (quoting wahida)
Perut Kenyang, BiaRlaH hati keNyaNg saMer :D




Please leave a comment, so far 0 comments

bismillah
::by the way ... ::


by the way,

some of us might be like this:
1- 5 months ago = 10
2- 4 months ago = 10

3- 3 months ago = 10
4- 2 months ago = 10
5- yesterday = 10
In other words, neither get any better nor worse.

and some other might be like this:

1- 5 months ago = 10
2- 4 months ago = 9
3- 3 months ago = 8
4- 2 months ago = 7
5- yesterday = 3
In other words, we get WORSE!

who is there to blame? I don't know, may be you know the answer? Can somebody help me out please?... thank you.

~will tomorrow be the same?




Please leave a comment, so far 0 comments

::Ramadhani Vs Rabbani ::

Ramadhan is over, so what about after ramadhan?

Ramadhanis only read and finish the Quran during Ramadhan
They go to the mosque only during Ramadhan
They give out charity and do a lot of good deeds only in Ramadhan
Everything stops once Ramadhan is over

Rabbanis continue to read the Quran thru out the year
They continue to go to the mosque every single day
They give charity and do good deeds continuosly
Everything goes on even after Ramadhan

Ramadhan comes and goes
but Allah never leave us even for a split second...




:: PANDUAN MENGQADHA PUASA RAMADHAN DAN PELAKSANAAN PUASA SUNNAH ENAM HARI BULAN SYAWAL ::




1. Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata : Adalah
salah seorang diantara kami tidak puasa pada bulan
Ramadhann pada zaman Rasulullah saw. maka ia tidak
sanggup mengqadhanya ( membayar puasa yang ditingalkan
) sehingga datang bulan sya'ban ( yakni pada bulan
sya'ban baru bisa membayar puasanya ). ( H.R : Muslim)

2.Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah
saya mempunyai hutang puasa bulan Ramadhan, saya tidak
mampu membayarnya sampai datang bulan sya'ban. (H.R
Bukhary )

3. Diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshariy ra:
Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda : Barang siapa
yang puasa pada bulan Ramadhan, kemudian diikuti puasa
enam hari pada bulan syawal adalah seperti puasa
setahun penuh. ( H.R : Muslim)

KESIMPULAN
Hadits-hadits di atas memberi pelajaran kepada kita
bahwa :
a. Barangsiapa yang mempunyai hutang puasa bulan
Ramadhan, hendaklah segera diqadha ( di bayar )
secepat mungkin jangan di tunda-tunda kecuali karena
ada uzur dan terpaksa di tunda meskipun sampai bulan
sya'ban. ( dalil : 2 )

b. Disunnahkan puasa enam hari pada bulan syawal
dengan syarat puasa Ramadhannya sudah lengkap, tidak
ada hutang.
c. Pengamalan puasa enam hari pada bulan Syawal ini
dapat dikerjakan secara berurutan ( enam hari
berturut-turut ) atau berselang-seling ( tidak
berurutan ). Yang penting pelaksanaanya adalah selama
bulan Syawal.

Maraji' (Daftar Pustaka):

1. Al-Qur'anul Kariem
2. Tafsir Aththabariy.
3. Tafsir Ibnu Katsier.
4. Irwaa-Ul Ghaliel, Nashiruddin Al-Albani.
5. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq.
6. Tamaamul Minnah, Nashiruddin Al-Albani.

Oleh Ustadz Abu Rasyid




:: PANDUAN SHALAT 'IEDUL FITHRI DAN `IEDUL ADHA ::



1. Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata : Adalah
Nabi saw. pada hari raya 'iedul fitri dan 'iedul adhha
keluar ke mushalla ( padang untuk shalat ), maka
pertama yang beliau kerjakan adalah shalat, kemudian
setelah selesai beliau berdiri menghadap kepada
manusia sedang manusia masih duduk tertib pada Saf
mereka, lalu beliau memberi nasihat dan wasiat (
khutbah ) apabila beliau hendak mengutus tentara atau
ingin memerintahkan sesuatu yang telah beliau
putuskan,beliau perintahkan setelah selesai beliau
pergi. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

2. Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan shalat
'ied bersama Nabi saw. beliau memulai shalat sebelum
khutbah tanpa adzan dan tanpa iqamah, setelah selesai
beliau berdiri bertekan atas Bilal, lalu memerintahkan
manusia supaya bertaqwa kepada Allah, mendorong mereka
untuk taat, menasihati manusia dan memperingakan
mereka, setelah selesai beliau turun mendatangai shaf
wanita dan selanjutnya beliau memperingatkan mereka. (
H.R : Muslim )

3. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Umar
mendapati pakaian tebal dari sutera yang dijual, lalu
beliau mengambilnya dan membawa kepada Rasulullah saw.
lalu berkata : Yaa Rasulullah belilah pakaian ini dan
berhiaslah dengannya untuk hari raya dan untuk
menerima utusan. Maka beliaupun menjawab :
Sesungguhnya pakaian ini adalah bagian orang-orang
yang tidak punya bagian di akherat ( yakni orang kafir
). ( H.R Bukhary dan Muslim )

4. Diriwayatkan dari Ummu 'Atiyah ra. ia berkata :
Rasulullah saw. memerintahkan kami keluar pada 'iedul
fitri dan 'iedul adhha semua
gadis-gadis, wanita-wanita yang haidh, wanita-wanita
yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang sedang
haidh mengasingkan diri dari mushalla (tempat shalat
'ied ), mereka meyaksikan kebaikan dan mendengarkan
da'wah kaum muslimin ( mendengarkan khutbah ). Saya
berkata : Yaa Rasulullah bagaimana dengan kami yang
tidak mempunyai jilbab? Beliau bersabda : Supaya
saudaranya meminjamkan kepadanya dari jilbabnya. ( H.R
: Jama'ah)

5. Diriwayatkan dariAnas bin Malik ra. ia berkata :
Adalah Nabi saw. Tidak berangkat menuju mushalla
kecuali beliau memakan beberapa biji kurma, dan
beliau memakannya dalam jumlah bilangan ganjil. ( H.R
: Al-Bukhary dan Muslim )

6. Diriwayatkan dari Buraidah ra. ia berkata : Adalah
Nabi saw keluar untuk shalat 'iedul fitri sehingga
makan terlebih dahulu dan tidak makan pada shalat
'iedul adhha sehingga beliau kembali dari shalat 'ied.
( H.R : Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan Ahmad)

7. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata :
Bahwasanya Nabi saw. keluar untuk shalat 'iedul fitri
dua raka'at, tidak shalat sunah
sebelumnya dan tidak pula sesudahnya. ( H.R : Bukhary
dan Muslim )

8. Diriwayatkan dari Jaabir ra. ia berkata : Adalah
Nabi saw apabila keluar untuk shalat 'ied ke
mushalla, beliau menyelisihkan jalan ( yakni waktu
berangkat melalui satu jalan dan waktu kembali melalui
jalan yang lain ). (H.R : Bukhary )

9. Diriwayatkan dari Yazid bin Khumair Arrahbiyyi ra.
ia berkata : Sesungguhnya Abdullah bin Busri seorang
sahabat nabi saw. keluar bersama manusia untuk shalat
'iedul fitri atau 'iedul adhha, maka beliau
mengingkari keterlambatan imam, lalu berkata :
Sesungguhnya kami dahulu ( pada zaman Nabi saw. ) pada
jam-jam seperti ini sudah selesai mengerjakan shalat
'ied. Pada waktu ia berkata demikian adalah pada
shalat dhuha. ( H.R : Abu Daud dan Ibnu Majah )

10. Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan
dari seorang pamannya dari golongan Anshar, ia berkata
: Mereka berkata : Karena tertutup awan maka tidak
terlihat oleh kami hilal syawal, maka pada pagi
harinya kami masih tetap puasa, kemudian datanglah
satu kafilah berkendaraan di akhir siang, mereka
bersaksi dihadapan Rasulullah saw.bahwa mereka kemarin
melihat hilal. Maka Rasulullah saw. memerintahkan
semua manusia ( ummat Islam ) agar berbuka pada hari
itu dan keluar menunaikan shalat 'ied pada hari
esoknya. ( H.R : Lima kecuali At-Tirmidzi )

11. Diriwayatkan dari Azzuhri, ia berkata : Adalah
manusia (para sahabat) bertakbir pada hari raya ketika
mereka keluar dari rumah-rumah mereka menuju tempat
shalat 'ied sampai mereka tiba di mushalla ( tempat
shalat 'ied ) dan terus bertakbir sampai imam datang,
apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila
imam ber takbir maka merekapun ikut bertakbir. (H.R:
Ibnu Abi Syaibah)

12. Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud ra. bertakbir pada
hari-hari tasyriq dengan lafadz sbb : ( artinya ) :
Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada Illah
melainkan Allah dan Allah maha besar, Allah maha besar
dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu Abi Syaibah dengan
sanad shahih )

13. Diriwayatkan dari Amru bin Syu'aib, dari ayahnya,
dari neneknya, ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw.
bertakbir pada shalat 'ied dua belas kali takbir.
dalam raka'at pertama tujuh kali takbir dan pada
raka'at yang kedua lima kali takbir dan tidak shalat
sunnah sebelumnya dan juga sesudahnya. (H.R : Amad dan
Ibnu Majah )

14. Diriwayatkan dari Samuroh, ia berkata : Adalah
Nabi saw. dalam shalat kedua hari raya beliau membaca
: Sabihisma Rabbikal A'la dan hal ataka haditsul
ghosiah. ( H.R : Ahmad )

15. Diriwayatkan dari Abu Waqid Allaitsi, ia berkata :
Umar bin Khaththab telah menanyakan kepadaku tentang
apa yang dibaca oleh Nabi saw. Waktu shalat 'ied . Aku
menjawab : beliau membaca surat ( Iqtarabatissa'ah )
dan ( Qaaf walqur'anul majid). (H.R : Muslim )

16. Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata :
Nabi saw. Mendirikan shalat 'ied, kemudian beliau
memberikan ruhkshah / kemudahan dalam menunaikan
shalat jum'at, kemudian beliau bersabda : Barang siapa
yang mahu shalat jum'at, maka kerjakanlah.
( H.R : Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi )

17. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Nabi
saw. bersabda pada hari kamu ini, telah berkumpul dua
hari raya ( hari jum'at dan hari raya ), maka barang
siapa yang suka shalat jum'at, maka shalatnya diberi
pahala sedang kami akan melaksanakan shalat jum'at.
( H.R : Abu Daud )

KESIMPULAN
Hadits-hadits tersebut memberi pelajaran kepada kita
tentang adab-adab shalat hari raya sbb : Pakaian Pada
saat mendirikan shalat kedua hari raya disunnahkan
memakai pakaian yang paling bagus. ( dalil : 3 )

Makan
a. Sebelum berangkat shalat hari raya fitri
disunnahkan makan terlebih dahulu, jika terdapat
beberapa butir kurma , jika tidak ada maka makanan apa
saja.
b. Sebaliknya pada hari raya 'iedul adhha, disunahkan
tidak makan terlebih dahulu sampai selesai shalat
'iedul adhha. ( dalil : 5 dan 6 )

Mendengungkan takbir a. Pada hari raya 'iedul fitri,
takbir didengungkan sejak keluar dari rumah menuju ke
tempat shalat dan sesampainya di tempat shalat terus
dilanjutkan takbir didengungkan sampai shalat dimulai.
( dalil : 11 )
b. Pada hari raya 'iedul adhha, takbir boleh
didengungkan sejak Shubuh hari Arafah ( 9 Dzul Hijjah
) hingga akhir hari tasyriq ( 13 Dzul Hijjah ). (dalil
: 12)

Jalan yang dilalui Disunnahkan membedakan jalan yang
dilalui waktu berangkat shalat hari raya dengan jalan
yang dilalui di waktu pulang dari shalat 'ied ( yakni
waktu berangkat melalui satu jalan, sedang waktu
pulang melalui jalan yang lain ). ( dalil : 8 )

Bila terlambat mengetahui tibanya hari raya Apabila
datangnya berita tibanya hari raya sudah tengah hari
atau petang hari, maka hari itu diwajibkan berbuka
sedang pelaksanaan shalat hari raya dilakukan pada
hari esoknya. ( dalil : 10 )

Yang menghadiri shalat 'ied Shalat 'ied disunnahkan
untuk dihadiri oleh orang dewasa baik laki-laki maupun
wanita, baik wanita yang suci dari haidh maupun wanita
yang sedang haidh dan juga kanak-kanak baik laki-laki
maupun wanita. Wanita yang sedang haidh tidak ikut
shalat, tetapi hadir untuk mendengarkan khutbah 'ied.
( dalil :4 )

Tempat shalat 'ied Shalat 'ied lebih afdhal (utama)
diadakan di mushalla yaitu suatu padang yang di
sediakan untuk shalat 'ied, kecuali ada uzur hujan
maka shalat diadakan di masjid. Mengadakan shalat 'ied
di masjid padahal tidak ada hujan sementara lapangan
(padang ) tersedia, maka ini kurang afdhal karena
menyelisihi amalan Rasulullah saw. yang selalu
mengadakan shalat 'ied di mushalla ( padang tempat
shalat ), kecuali sekali dua kali beliau mengadakan di
masjid karena hujan. ( dalil : 1 dan 8 )

Cara shalat 'ied
a. Shalat 'ied dua raka'at, tanpa adzan dan iqamah dan
tanpa shalat sunnah sebelumnya dan sesudahnya. ( dalil
: 1,2 dan 7 )
b. Pada raka'at pertama setelah takbiratul ihram
sebelum membaca Al-Fatihah, ditambah 7 kali takbir.
Sedang pada raka'at yang kedua
sebelum membaca Al-Fatihah dengan takbir lima kali. (
dalil 13 )
c. Setelah membaca Fatihah pada raka'at pertama di
sunnahkan membaca surat (sabihisma Rabbikal a'la /
surat ke 87 ) atau surat
iqtarabatissa'ah / surat ke 54 ). Dan setelah membaca
alFatihah pada raka'at yang kedua disunnahkan membaca
surat ( Hal Ataka Haditsul Ghaasyiyah / surat ke 88 )
atau membaca surat ( Qaaf walqur'anul majid / surat ke
50 ).( dalil : 15 )
d. Setelah selesai shalat , imam berdiri menghadap
makmum dan berkhutbah memberi nasihat-nasihat dan
wasiat-wasiat, atau perintah-perintah penting.
e. Khutbah hari raya ini boleh diadakan khusus untuk
laki-laki kemudian khusus untuk wanita.
f. Khutbah hari raya ini tidak diselingi duduk .(
dalil : 1 dan 2 )

Waktu shalat Shalat 'ied diadakan setelah matahari
naik, tetapi sebelum masuk waktu shalat dhuha. ( dalil
: 9 )

Hari raya jatuh pada hari jum'at. Bila hari raya jatuh
pada hari jum'at, maka shalat jum'at menjadi sunnah,
boleh diadakan dan boleh tidak, tetapi untuk pemuka
umat atau imam masjid jami' sebaiknya tetap mengadakan
shalat jum'at. ( dalil : 16 dan 17 )


Please leave a comment, so far 0 comments


:: Laylatul Qadr ::


In Saheeh al-Bukhaari it was narrated that ‘Ubaadah ibn al-Saamit said: the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) came out to tell us when Laylat al-Qadr was, and two of the Muslims were arguing. He said:


 
“I came out to tell you when Laylat al-Qadr was, and So and so and So and so were arguing, so it [the knowledge of when Laylat al-Qadr was] was taken away from me. Perhaps this is better for you. So seek it on the ninth and the seventh and the fifth” (al-Bukhaari, 1919)

, i.e., on the odd-numbered nights. This hadeeth indicates how bad it is to argue and fight, especially with regard to matters of religion, and that this is a cause of goodness being taken away or concealed.

Shaykh al-Islam ibn Taymiyah said:


 
“But odd-numbers have to do with what is past [i.e., when one starts counting from the beginning of the month], so it should be sought on the twenty-first, the twenty-third, the twenty-seventh or the twenty-ninth; or it may be with regard to what is left, as the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: ‘when there are nine left, or seven left, or five left, or three left.’ On this basis, if the month has thirty days, these will be even-numbered nights, so on the twenty-second there will be nine days left, on the twenty-fourth there will be seven days left. This is how it was explained by Abu Sa’eed al-Khudri in the saheeh hadeeth, and this is how the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) prayed qiyaam during this month. If this is the case, then the believer should seek it in all of the last ten days.” (al-Fataawaa, 25/284, 285).


Please leave a comment, so far 1 comments

::Ramadan ini, qalbi menangis lagi ::
Bismillah

Dear teman-teman, kawan-kawan sekalian,

Sorry sbb nampaknya entry dari ana semakin hari semakin 'menyemak' kan ruang blog kita yang sudah semakin sunyi sepi. Cuba buat kebarangkalian dalam kepala anda sekarang, berapa ramai dari 64 orang (lebih kurang) teman-teman seagama dan sepermainan kita di case yang akan jenguk blog ni dalam sehari, dalam seminggu, dalam sebulan, dalam setahun. Memang "bersebab" kebarangkalian yang rendah tu : x menarik, x informative, psl agama2 ni membosankan, aku busy, xde gamba, xde entry baru pon, xde gossip, aku bukan budak baik, asyik benda yang sama - buhsan....etc...etc....

nak deny atau accept?
ramai antara kita sekarang yang mendefine 'amal tuntutan Allah ta'ala' dan 'tinggal laranganNya' sebagai nak jadi 'alim' atau 'budak baik'. Ada juga yg merelate perkara ini dengan 'jumud' dan 'extremism'. Pilihlah mana-mana definisi pun, yang pentingnya mengamalkan Islam secara kaffah(menyeluruh) - even smth yg very basic dan jelas - adalah sesuatu yang impossible dan luar biasa. Pemikiran cara apa yang kita gunapakai sekarang ini?- ..duh~ confused!

Pick and choose, mix and match
Perintah Allah Vs Kemahuan kita = kemahuan kita won
Sunnah nabi Vs Style kita = style kita won
Kewajipan Vs jadual kita = jadual kita won
Allah dan Rasul vs kita = kita won

in other words, "I'll pick what I wanna do from the religion and just leave what I don't wanna do. No matter what, I am still a muslim, but just an ordinary one. There's no need to be extremely religious."

ilmu, amal
>Contoh beramal ngan ilmu.
Belajar dlm kelas, 1+1 =2.
Jawab dlm exam, 1+1 =2.
>Lagi contoh mengamalkan apa yg kita tahu.
Belajar dr ustaz/ah, puasa ramadan wajib.
Masa ramadan, puasa penuh.
>lagi dan lagi...
Cuba fikir satu perintah tuhan atau seruan nabi ..
apa yg terfikir tu, itulah ilmu. Kalau tak, takkan terfikir sbb tak tahu.
Lepas tu, cuba fikir, kita amal tak apa yg kita tahu tu?
e.g: Solat wajib atas semua muslim, bayar zakat, jgn curik, jangan dekati zina, etc. Ada orang yang tak tahu ke ni? ada orang yg x amal ke ni? Ntahla...teruskan berfikir.

Tipu, tertipu
Aku nak masuk syurga, tapi aku pilih reverse direction..
Aku tahu akan mati, tapi dunia lebih penting
Aku cinta rasul, tapi aku ikut kawan-kawan
Aku rindu ramadan, tapi nafsu perlu aku utamakan
Aku Islam, tapi cukuplah sekadar cukup makan
Aku tahu, tapi saja tak nak amalkan....

~Allahumma innaka a'fuww, tuhibbul a'fwa, fa'fuanna.



Please leave a comment, so far 0 comments


:: Seperti pernah terdengar ... ::

Bismillah

"ehem..ehem"...berdehem-dehem kecil Imam Ibrahim melangkah masuk ke dalam masjid. Sambil membetul-betulkan kopiah di kepala, matanya meninjau-ninjau ke sekitar ruang sembahyang di situ. Dilihatnya ada Tuk Mat, Tok Ali, dan beberapa lagi 'rakan sebaya'nya.

"Erm....muka-muka yang biasa juga hari ini..", desis hati Imam Ibrahim. Bukan dia tidak suka dengan orang-orang yang di hadapannya itu, cuma ada sedikit rasa kekecewaan yang membungkam di dadanya, sejak sekian lama. Apa tidaknya, yang hadir ke masjid hanya orang-orang yang sudah di hujung senja seperti dirinya. Tidak kelihatan kelibat anak-anak muda yang tadinya dilihat ramai di padang di seberang jalan bertentangan masjid. Dia tahu malam ini ada perlawanan bola di sana. "Mungkin 'jemaah' besar anak-anak muda sedang berkumpul dan sibuk bermain masa ini", bisik hati Imam Ibrahim lagi.

Perlahan-lahan dia meminta Che Mat yang sudah penuh beruban kepala dan misainya mengalunkan azan dan kemudian iqamat. Seperti biasa, Imam Ibrahim mengetuai jemaah yang tidak lebih dari sebelas orang itu. Selepas solat dan munajat yang agak panjang, Imam Ibrahim mencapai mikrofon berusia entah berapa tahun dan memulakan kuliahnya . Bila dilihatnya kawan-kawan sebaya di hadapannya sudah mula 'tunduk khusyuk' dan 'memancing-mancing ikan', Imam Ibrahim pun menaikkan sedikit suaranya sambil berkata, "InshaAllah saya akhiri kuliah saya pada kali ini dengan.." dan dilihatnya dengan tidak semena-mena semua muka menjadi ceria. Lalu Imam Ibrahim pun menghabiskan kata-katanya,

"Narrated Abu Hurairah radiaAllahu anhu, the prophet (pbuh) said, "No salat is more heavy for the hypocrites than the fajr and the isya' prayer, but if they knew the reward for these salat at their respective times, they would certainly present themselves(in the mosques) even if they had to crawl. The Prophet (pbuh) added, "certainly, I intended (or was about) to order the mua'ddhin to pronounce iqamah and order a man to lead the salat, and then take a fire flame to burn all those who had not yet left their houses for the salat (in the mosques)"

Lalu orang-orang yang di hadapannya pun terdiam dan tergaru-garu kepala..entahlah samada memikirkan keseriusan hadeeth ini atau kehairanan dengan ke'terrer'an Imam bercakap bahasa Inggeris malam itu...

[ku copy n paste dr blogku]


Please leave a comment, so far 1 comments


:: Music and Musical Instrument::


assalamualaikum......dpt Q/A dr website, menarik dan boleh difikir2kan.

Q :Please could you advise on whether listening to nasheeds from the likes of Zain Bikha etc are halal or not.

A : Q Is music haraam? Some people are propagating the view that it is not Haraam. Many Islamic songs are sung with the playing of the duff. Is it permissible to listen to them? Also, some Islamic songs are recorded with the zikr of “Allah” played in the background. It sounds very much like drums are being played. However, it is a group of people who are saying “Allah” in unison. Is there any problem in listening to this? A Hazrath Anas (R.A.) reports that Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wasallam) said: “There will certainly be people from my Ummah who will attempt to legalize fornication, the wearing of silk (for males), the consuming of wine and the use of musical instruments” (Al-Jaamius Sagheer - Pg. 139). Indeed this prophesy of Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wasallam) is glaring before us. Despite the clear prohibition of the use of musical instruments, great efforts are being made to “legalize” their use. While some people wish to declare all music permissible, others are opening the door slowly by declaring that only the use of the “duff” is permissible. Thus it is necessary to examine the reality of these claims in the light of the Qur’an and Sunnah. In Surah Luqman Allah Ta’ala declares: “And among the people are those who purchase idle talk in order to mislead others from the path of Allah in ignorance.” Hazrath Abdullah bin Masood (R.A.) states emphatically that this verse was revealed regarding singing and musical instruments. The same has been reported from Hazrath Abdullah bin Abbas (R.A.) and Hazrath Jaabir (R.A.) (Tafseer Qurtubi). Thus when these illustrious students of Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wasallam), who witnessed the revelation of the aayaat (verses) of the Qur’an are clear that this verse prohibits music and musical instruments, the “view” of any twentieth century “scholar” to the contrary holds no weight.

BLOCK OUT SOUND
Various Ahadith also clearly prohibit music and the use of musical instruments. Hazrath Abdullah bin Umar (R.A.) reports that once Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wasallam) heard the sound of the flute of a shepherd. He immediately placed his fingers into his ears (to block out the sound) (Musnad Ahmad). How tragic it is that our beloved Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wasallam) blocks his ears to the sound of music but his Ummah opens their ears wide to the same sounds. In another narration Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wasallam) is reported to have said: “ Verily Allah Ta’ala has sent me as a guidance and as a mercy to the Believers and He has commanded me to destroy musical instruments” (Musnad Ahmad).

DUFF
As for the duff, it is also a musical instrument and therefore it will primarily be included in the above prohibition. However, some concession was given for the use of the duff on the occasion of a Nikah. The Sahaaba (R.A.), who were the direct students of Rasulullah (Sallallahu Alaihi Wasallam) understood the commands of the Qur’an and Hadith far better than we can ever hope to understand. It is reported regarding Hazrath Umar (R.A.) that if he heard the sound of a duff he would immediately send somebody to investigate. If it was found to be the occasion of a Walima, he would not do anything. Otherwise he would go for his whip (i.e. he would forcefully stop the playing of the duff) (Fathul Qadeer - Vol. 6, Pg. 389).

EXTRACTING LAWS
Nevertheless, to extract the laws of Shariah directly from the Qur’an and Sunnah is possible only for one who is a mujtahid [in the calibre of the four great Imaams viz. Imaam Abu Hanifa (R.A.), Imaam Malik (R.A.), Imaam Shaafi (R.A.) and Imaam Ahmad bin Hambal (R.A.)]. Together with an expert in-depth knowledge of the Qur’an and hundreds of thousands of Ahadith, they had also mastered all the numerous sciences pertaining to the Qur’an and Sunnah. According to the Zaahirur Riwayah (the most authentic narrations) of the Hanafi school of thought, the use of the duff is completely disallowed. Latter day scholars who have attributed a restricted permissibility to the Hanafi school have erred. This complete disallowal is based on the Juristic principle of “saddan lil baab” i.e. to restrict an act that would invariably lead to impermissible actions. The Shafi’ee Ulama have permitted the use of the duff only on the occasion of a walima subject to several conditions. Allamah Ibn Hajar Makki, Shafi’ee has detailed the various conditions, among which is that the duff should not be beaten in a manner that produces a musical sound, but rather just a simple beating which does not produce any tune or melody. Only the palms may be used to beat the duff and not the fingers. It should also be beaten only for a short while. Having stated this he says that “in our era it is makrooh to beat the duff” (since people cannot fulfil the stringent conditions). Therefore in the light of the above one should not listen to such nazams which are accompanied by the playing of the duff.

BACKGROUND ZIKR
As for the “background zikr,” this should be considered very carefully. What is the purpose of having people say “Allah” in unison in the background? Is it for the purpose of zikr itself? If yes, then why in the background? If the purpose is to create a background effect to make the nazam more entertaining, in the manner that background music is used, this is an extremely dangerous thing. It is abuse of the name of Allah Ta’ala. The name of Allah Ta’ala is not for the purpose of entertainment. If it has been deliberately made to resemble the beating of drums, it will be even more serious and even dangerous for one’s Imaan. One should totally refrain from listening to such nazams.

~~Benda2 dah clear dan jelas ni......marilah sama2 kite usaha untuk mengelakkannya.....
~~ FEAR Allah for HE is Severe in Punishment!!


Please leave a comment, so far 1 comments


Question :


What are our duties towards our Muslim brothers who have been stricken by calamities and disasters throughout the world?

Answer :


Praise be to Allaah.


Allaah says (interpretation of the meaning):


“The believers are nothing else than brothers (in Islamic religion)…” [al-Hujuraat 49:10]


And He describes them (interpretation of the meaning):


“…severe against disbelievers, and merciful among themselves…” [al-Fath 48:29]


The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “The relationship of the believer towards the people of faith is like that of the head to the body. The believer feels the pain of the people of faith just as the body feels the pain of the head.” (Narrated by Imaam Ahmad).


Ibn al-Qayyim (may Allaah have mercy on him) neatly summed up the ways in which a believer can support his fellow-believer. He said:


There are different ways of supporting a fellow believer: with one’s wealth, with one’s position of authority or power, by means of physical service, by offering sincere advice and guidance, by making supplication (du’aa’) and asking for forgiveness for them, and by feeling their pain. The level of one’s support will be affected by the level of one's faith. The weaker a person's faith, the weaker his support will be; the stronger the faith, the stronger the support. The Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) was the greatest of all people in his support for his companions, so the more closely his followers follow him, the greater will be their support for their fellow-believers.


(al-Fawaa’id, 1/171)


Al-Khaleel ibn Ahmad was walking with a companion of his when his companion’s shoe broke, so he carried his shoes and walked barefoot. Al-Khaleel took off his own shoes and carried them and walked barefoot. His companion asked him why he was doing that, and he said, “I am showing sympathy for you in your being barefoot.”


Last posts

Prayer Times



Ingat-Mengingat




Links


ATOM 0.3

Archives